Sampaikan Informasi Atau Kejadian Di Sekitar Anda Ke Redaksi Jogja Tv Melalui Sms: 085 776 561 900 / Fax: 0274-451800  Pemerintah Provinsi Dki Jakarta Berupaya Menambah Jumlah Ruang Perawatan Khusus Untuk Anak-anak Di Rsud  Tingkat Partisipasi Pemilih Di Surabaya Capai 60 Persen  Seorang Pegawai Honorer Sebuah Instansi Di Boyolali Yang Diduga Menjadi Aktor Itelektual Kasus Jual Beli Kunci Jawaban Un Berhasil Ditangkap Petugas Sat Reskrim Polres Karanganyar  Dinas Peternakan, Pertanian Dan Kelautan (dppk) Kota Pekalongan Terus Mendorong Masyarakat Kota Pekalongan, Terutama Anak-anak Untuk Mengonsumsi Ikan  Komisi Ii Dprd Kota Tegal Mendukung Adanya Revisi Peraturan Daerah (perda) No 3/2010 Tentang Pajak Dan Retribusi Tempat Pelelangan Ikan (tpi)  Kpk: Potensi Kerugian Negara Kasus E-ktp Rp 1,12 Triliun  Sebanyak 5.796 Siswa Smp/mts Di Kulonprogo Siap Ikuti Un  Latihan Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Slamet Ditutup  Sejumlah Pedagang Di Pasar Kutoarjo Mengeluhkan Naiknya Harga Daging Ayam Pedaging  
Portal Berita > Kawentar
Ajaran Tut Wuri Handayani Ki Hajar Dewantara
Sabtu, 05 May 2012 | 16:08 WIB

Ajaran Tut Wuri Handayani Ki Hajar Dewantara

Kawentar

Minggu 6 Mei 2012

Tut Wuri Handayani adalah semboyan dari tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Semboyan ini masih relevan untuk diterapkan pada bidang pendidikan di masa sekarang. Namun sayangnya pendidikan kita saat ini sudah tidak berpijak lagi pada filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan seharusnya adalah memerdekakan siswa dan memberikan rasa kenyamanan. Namun kenyataannya, pendidikan saat ini cenderung menjadi beban bagi siswa. Sistem Ujian Nasional yang diterapkan pemerintah telah menjadi teror bagi siswa, sehingga siswa merasa ketakutan dan tidak bisa berpikir secara kreatif.

Ki Hajar Dewantara bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan berasal dari lingkungan Kraton Yogyakarta. Pada usia 40 tahun tokoh pendidikan ini  menanggalkan gelar kebangsawanannya dan menggunakan nama Ki Hajar Dewantara. Tujuannya supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

 Pemerintah menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomer 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.  Tokoh pendidikan ini meninggal di Yogyakarta, pada 26 April1959 pada umur 69 tahun. 

Sebagai salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Tamansiswa. Selain itu tokoh yang satu ini juga sebagai  perintis dunia jurnalistik, aktivis Organisasi Insulinde, Boedi Oetomo, Indische Partij, dan  politisi.

Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Misalnya pada tulisannya bersama kelompok Tiga Serangkai yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" atau   Seandainya Aku Seorang Belanda" yang dimuat dalam surat kabarDe Exprespada  tahun 1913. Isi artikel ini adalah kritik tajam terhadap pemerintah kolonial.

Akibat tulisannya yang menyindir pemerintah Belanda, maka beliau ditangkap dan akan diasingkan ke Pulau Bangka. Namun demikian kedua rekannya, Douwes Decker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai".  Saat itu Ki Hajar Dewantara  baru berusia 24 tahun.

Pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan National Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Cikal bakal pendirian Tamansiswa telah dirintis Ki Hajar Dewantara saat berada dalam  pengasingan di Belanda.  Saat pengasingan itu ia  aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging atau PerhimpunanHindia.

Pendidikan Tamansiswa merupakan lembaga pengajaran yang anti intelektualisme. Artinya, siapapun tidak boleh hanya mengagungkan kecerdasan dengan mengabaikan factor lainnya. Tamansiswa mengajarkan azas keseimbangan yaitu intelektualitas dan personalitas.  Maksudnya, agar setiap siswa  dapat mengembangkan kecerdasan dan kepribadian secara seimbang.

Saksikan Kawentar Minggu 06 Mei 2012, pukul 21.30 WIB.