Sampaikan Informasi Atau Kejadian Di Sekitar Anda Ke Redaksi Jogja Tv Melalui Sms: 085 776 561 900 / Fax: 0274-451800  Nilai Tukar Rupiah Menguat Ke Level Tertinggi Dalam Tiga Pekan Terakhir Usai Mk Menjatuhkan Putusannya Dengan Menolak Seluruh Gugatan Atas Hasil Pemilihan Presiden Pada 9 Juli Lalu  Status Keamanan Dki Usai Putusan Mk Turun Jadi Siaga Ii  Jokowi-jk Resmi Dikawal Paspampres Usai Jumatan  Akbar Tandjung Yakin Koalisi Merah Putih Tetap Solid  Bbm Bersubsidi Terutama Premium Mengalami Kelangkaan Di Beberapa Wilayah Kabupaten Bantul, Jumat (22/8/2014)  Pengamanan Di Kawasan Candi Borobudur Ditingkatkan, Menyusul Adanya Informasi Yang Menyebutkan Candi Borobudur Diancam Akan Dihancurkan Oleh Para Pendukung Isis  Isis Ancam Borobudur, Polda Bali Perketat Pengamanan Pura  Sebanyak 20 Jenazah Warga Negara Malaysia Yang Menjadi Korban Jatuhnya Pesawat Mh17 Pada 17 Juli 2014 Lalu Di Ukraina Telah Dipulangkan Ke Negara Asalnya  Sriwijaya Air Mendarat Darurat Di Bandara Ahmad Yani Setelah Tabrak Burung Dan Kaca Pilot Retak  Mk: Dalil Prabowo-hatta Memperoleh Nol Suara Di Papua Tidak Terbukti  
Portal Berita > Kawentar
Ajaran Tut Wuri Handayani Ki Hajar Dewantara
Sabtu, 05 May 2012 | 04:08 WIB

Ajaran Tut Wuri Handayani Ki Hajar Dewantara

Kawentar

Minggu 6 Mei 2012

Tut Wuri Handayani adalah semboyan dari tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Semboyan ini masih relevan untuk diterapkan pada bidang pendidikan di masa sekarang. Namun sayangnya pendidikan kita saat ini sudah tidak berpijak lagi pada filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan seharusnya adalah memerdekakan siswa dan memberikan rasa kenyamanan. Namun kenyataannya, pendidikan saat ini cenderung menjadi beban bagi siswa. Sistem Ujian Nasional yang diterapkan pemerintah telah menjadi teror bagi siswa, sehingga siswa merasa ketakutan dan tidak bisa berpikir secara kreatif.

Ki Hajar Dewantara bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan berasal dari lingkungan Kraton Yogyakarta. Pada usia 40 tahun tokoh pendidikan ini  menanggalkan gelar kebangsawanannya dan menggunakan nama Ki Hajar Dewantara. Tujuannya supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

 Pemerintah menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomer 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.  Tokoh pendidikan ini meninggal di Yogyakarta, pada 26 April1959 pada umur 69 tahun. 

Sebagai salah satu tokoh perintis pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Tamansiswa. Selain itu tokoh yang satu ini juga sebagai  perintis dunia jurnalistik, aktivis Organisasi Insulinde, Boedi Oetomo, Indische Partij, dan  politisi.

Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Misalnya pada tulisannya bersama kelompok Tiga Serangkai yang berjudul "Als ik eens Nederlander was" atau   Seandainya Aku Seorang Belanda" yang dimuat dalam surat kabarDe Exprespada  tahun 1913. Isi artikel ini adalah kritik tajam terhadap pemerintah kolonial.

Akibat tulisannya yang menyindir pemerintah Belanda, maka beliau ditangkap dan akan diasingkan ke Pulau Bangka. Namun demikian kedua rekannya, Douwes Decker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai".  Saat itu Ki Hajar Dewantara  baru berusia 24 tahun.

Pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan National Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Cikal bakal pendirian Tamansiswa telah dirintis Ki Hajar Dewantara saat berada dalam  pengasingan di Belanda.  Saat pengasingan itu ia  aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging atau PerhimpunanHindia.

Pendidikan Tamansiswa merupakan lembaga pengajaran yang anti intelektualisme. Artinya, siapapun tidak boleh hanya mengagungkan kecerdasan dengan mengabaikan factor lainnya. Tamansiswa mengajarkan azas keseimbangan yaitu intelektualitas dan personalitas.  Maksudnya, agar setiap siswa  dapat mengembangkan kecerdasan dan kepribadian secara seimbang.

Saksikan Kawentar Minggu 06 Mei 2012, pukul 21.30 WIB.